Banjir rob merupakan suatu fenomena klasik apabila kita berbicara mengenai Kota Semarang. Sejak dulu hingga sekarang, banjir rob selalu menjadi isu permasalahan di Kota Semarang, khususnya di daerah pesisir seperti Kecamatan Semarang Utara dan Genuk.

Saat ini, sekitar 1.400 Ha wilayah pesisir Kota Semarang terkena dampak banjir rob. Salah satu penyebab utama terjadinya banjir rob adalah kenaikan muka air laut yang merupakan dampak dari pemanasan global yang melanda di seluruh belahan bumi, serta penurunan muka tanah. Kenaikan muka air laut di Kota Semarang terus meningkat setiap tahunnya, diperkirakan pada tahun 2100, kenaikan air laut mencapai 57,6 cm dan dapat membanjiri lahan seluas 4.235,4 Ha (Suhelmi dan Prihatno, 2014).

Banjir rob juga dipengaruhi oleh penurunan muka tanah. Wilayah utara Kota Semarang terbentuk dari sedimentasi alami selama 500 tahun ke belakang. Umur endapan tersebut tergolong muda sehingga struktur tanah di bagian tersebut masih labil. Garis pantai Kota Semarang pada awal abad ke-6 berada pada daerah Gedong Batu dimana garis tersebut maju sedikit demi sedikit ke arah laut, hingga sekarang. Laju proses penurunan muka tanah dengan laju penurunan sebesar 0-9 cm per tahun (Badan Geologi, 2008). Penurunan muka tanah tertinggi terjadi di Kelurahan Tanjung Mas, Terboyo Kulon, Purwodinatan dan Semarang Tengah (Hari, Septriono, 2013).

Program penanganan banjir rob selalu menjadi prioritas di dalam rencana-rencana yang dibuat oleh pemerintah kota setiap tahunnya, seperti kolam retensi dan pompa air, normalisasi sungai banjir kanal, tanggul lepas pantai, dll. Program-program penanganan banjir rob tersebut telah dilaksanakan namun  terdapat juga program yang masih dalam tahap rencana. Pada tahun 2014, terdapat 96 pompa yang berjalan aktif. 3 stasiun pompa akan sedang dibangun dan direncanakan di lokasi Sungai banger, dan Semarang Baru.

Tinggi banjir rob dapat mencapai 2,5 km. Namun dengan adanya berbagai program penanganan banjir, dampak banjir rob yang dirasakan masyarakat sudah sangat berkurang. Saat ini tinggi banjir rob yang menggenangi daerah pesisir Kota Semarang hanya berkisar di 0.5-15 cm dengan lama genangan 6-12 jam. Walaupun begitu, masyarakat Kota Semarang merasa bahwa proyek penangangan yang dilakukan oleh pemerintah kota belum terkoordinasi dengan baik dengan program penanganan yang dilakukan oleh pihak lain, sehingga penanganan banjir rob belum optimal hingga saat ini.

Dampak yang dirasakan oleh adanya banjir rob cukup luas, tidak hanya dirasakan oleh warga setempat yang tinggal di daerah-daerah yang disebutkan di atas, namun juga berdampak pada akses distribusi pengangkutan barang, seperti pelabuhan. Banjir rob juga terjadi di gerbang masuk pos IV Pelabuhan Tanjung Emas, dimana hal tersebut menghambat proses distribusi barang masuk (Koran Tempo, 2014). Selain itu banjir rob juga erat kaitannya dengan kemiskinan dan pengangguran. Kelompok masyarakat miskin teridentifikasi sebagai masyarakat yang paling rentan terhadap adanya permasalahan ini, terlebih lagi kelompok usia anak dan manula.

Kepala Subdinas Pengairan Dinas Pekerjaan Umum, Fauzi mengatakan bahwa konsep water front city perlu untuk diterapakan di daerah dengan tingkat penurunan tanah tinggi seperti Tanah mas, Tawang dan Tambaklorok. Hal tersebut penting sebagai upaya adaptasi bencana dari masyarakata kawasan perkotaan untuk mengantisipasi adanya banjir rob.

Leave a Reply