Dokter-Dokter Pembasmi Nyamuk

By December 3, 2015 No Comments
Berita

“Assalamualaikum, Selamat pagi saya Dokter Kecil dari SDN Sukorejo 02, minta izin mau periksa jentik yang ada di dalam rumah Bapak,  boleh ndak?”

“O boleh, silahkan masuk dik”

“Terima kasih, maaf ini dengan Bapak siapa?”

“Bapak Marsidi”

“Kalau kepala keluarga di sini siapa ya Pak? “

“Saya Sendiri Dik”

dokter-nyamukBegitulah pembukaan aksi Tasya, murid SDN Sukerojo 02 yang berperan sebagai Dokter Kecil di sekolahnya. Tasya sedang melakukan kegiatan Pemantauan Jentik Rutin (PJR) yang merupakan bagian dari kegiatan pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan sekolah dan sekitarnya.

Setelah masuk rumah, Tasya beserta temannya langsung menuju kamar mandi untuk memeriksa bak mandi. Di sini Tasya dan teman-temannya menggeleng-gelengkan kepala karena melihat banyak jentik nyamuk,

“Pak Marsidi, nanti tolong dikuras ya kamar mandinya, ini jentik nyamuknya banyak banget lho”.

 Setelah itu Tasya dan tim melanjutkan memeriksa dapur dan tempat minum, setelah mengetahui hasilnya negatif kemudian mereka minta pamit pada tuan rumah dan kembali ke sekolah untuk  melapor kepada guru PJOK mereka.

“Pak Slamet,  lapor saya sudah melakukan PJR di 4 rumah ternyata hasilnya 3 negatif dan 1   positif, yang positif di rumahnya pak Marsidi, jentik nyamuknya banyak banget Pak”                          

“Baiklah, kalau begitu minggu depan rumah Pak Marsidi kita PJR lagi”

Saat ini ada 19 Sekolah Dasar di wilayah kota Semarang yang mengikuti kegiatan penguatan Dokter Kecil untuk pemberantasan nyamuk Demam Berdarah. Dalam pelaksanaan kegiatan disesuaikan dengan kegiatan Jum’at bersih di sekolah. Dalam setiap kegiatan Dokter Kecil di bagi menjadi dua , tim yang beroperasi di sekolah dan tim yang berkeliling ke masyarakat.

Masing– masing sekolah mempunyai strategi berbeda untuk pelaksanaan PJR di sekolah. Di SD Marsudi Utami contohnya dengan dukungan dari kepala sekolah dan guru 10 orang Dokter Kecil diterjunkan langsung tiap jum’atnya, 2 orang memeriksa jentik di sekolah dan 8 lainnya memeriksa di masyarakat. Berbeda dengan SD Kalipancur 2 yang dibagi tim per minggu sehingga para dokter kecil mempunyai jadwal tiap minggunya .  Masing masing Dokter Kecil dibekali dengan senter dan formulir untuk mencatat rumah yang positif jentik dan tempat perkembangbiakan nyamuk di sekolah. Laporan dari Dokter Kecil ini akan di serahkan kepada guru pendamping dan dilaporkan kepada Dinas Kesehatan melalui SMS gateway.

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan penyakit endemis di Kota Semarang. Bahkan, seperti disebutkan Antara,  dari tahun 2008-2012 angka DBD di kota Semarang merupakan yang tertinggi di Jawa Tengah. Pada tahun 2013, turun menjadi peringkat ke-2, dan pada tahun 2014 Incidence Rate DBD Kota Semarang (92,43) kembali menduduki peringkat Pertama IR DBD Jawa Tengah diikuti Kabupaten Jepara dan Sragen. Jumlah Kasus DBD di Jawa Tengah Tahun 2014 sejumlah 11.081 penderita. Kota Semarang dengan 1.628 Penderita menyumbang 14,7% kasus di Jawa Tengah. Jumlah Penderita DBD yang meninggal Tahun 2014 tetap sama dengan tahun tahun 2013 yaitu sejumlah 27 kematian (Dinas Kesehatan Kota Semarang).

Sampai bulan Agustus 2015, Dinas Kesehatan Semarang mencatat sudah terjadi setidaknya 1623 kasus DBD, angka tertinggi adalah di bulan Februari yang mencapai 329 kasus, hal itu dipengaruhi faktor cuaca di mana bulan Februari mengalami curah hujan yang cukup tinggi. Pada bulan itu juga tiga kecamatan di kota Semarang dinyatakan Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD yaitu kecamatan Banyumanik, Ngaliyan, dan Tembalang. Pada Bulan Januari dan Februari, tercatat di kecamatan Banyumanik terjadi 67 kasus, kecamatan Ngaliyan 53 kasus, dan yang tertingggi di kecamatan Tembalang yang mencapai 81 kasus.

Berbagai upaya untuk menekan angka kasus DBD sudah dan terus dilakukan oleh Dinas Kesehatan Semarang melalui kerja sama dengan semua pihak. Salah satunya adalah pemberian informasi dan kesadaran yang terus menerus ke tengah masyarakat mengenai penyakit DBD termasuk gejala, penanganan, dan pencegahan. Bagian dari aktivitas itu adalah dengan pendidikan menganai DBD melalui sekolah-sekolah, antara lain melalui kegiatan Jum’at Bersih dan penguatan Dokter Kecil.

Program penguatan dokter kecil ini dilakukan oleh Dinas Kesehatan kota Semarang bekerja sema dengan Program ACTIVE (Actions Changing The Incidence of Vector-Borne Endemic Diseases (ACTIVE) atau Program Inisiatif Penanggulangan Penyakit Berbasis Vektor yang dilaksanakan oleh Mercy Cops Indonesia. Program ACTIVE ini merupakan bagian dari program ACCCRN (Asian Cities Climate Change Resilience Network) atau Jaringan Kota-kota Asia dalam meningkatkatkan ketahanan dalam perubahan Iklim. Perlu diketahui tingginya angka kejadian DBD juga tidak bisa dilepaskan dari fenomena perubahan iklim. Peningkatan temperatur dan kelembaban yang disebabkan perubahan iklim ditengarai telah mempercepat siklus perkawinan dan pertumbuhan nyamuk dari larva sampai menjadi nyamuk dewasa.

Untuk menghadapi akibat perubahan iklim yang berdampak pada sektor kesehatan diperlukan peningkatan pemberdayaan masyarakat dalam adaptasi perubahan iklim sesuai karakteristik wilayah, peningkatan kapasitas sumber daya manusia bidang kesehatan, peningkatan pengendalian dan pencegahan penyakit akibat dampak perubahan iklim khususnya DBD serta peningkatan kemitraan antar pemangku kepentingan. Pemberdayaan masyarakat dalam program ACTIVE ini dapat dilihat dari kegiatan pendampingan melalui pelatihan, penyampaian materi penanggulangan DBD, serta kegiatan PJR bersama masyarakat.

Pemberdayaan masyarakat dilakukan agar masyarakat tidak tergantung terhadap pendampingan yang dilakukan pemerintah atau lembaga lain ketika program ACTIVE sudah berakhir. Melalui konsep Capacity Building diharapkan mampu meningkatkan kemampuan dan kapasitas masyarakat dalam menghadapi permasalahan secara bersama- sama. Upaya pelibatan partisipasi masyarakat secara bersama juga dapat membangun sumber daya manusia yang tangguh dalam menanggulangi bencana DBD.

Leave a Reply