Oleh: Sudharto P. Hadi

SEMARANG terpilih menjadi proyek percontohan kota berketahanan (resilience city) bersama 100 kota lain di dunia (SM, 22/9/15). Resilience city yang diterjemahkan Pemkot Semarang sebagai kota tangguh, menambah panjang daftar istilah kota ideal di Indonesia, dari kota sehat, kota hijau, hota berkelanjutan, sampai kota cerdas.

Kota berketahanan adalah bila kapasitas individu, masyarakat, lembaga, perusahaan dan sistem dalam sebuah kota bisa bertahan, beradaptasi dan tumbuh menghadapi berbagai guncangan dan tekanan apa pun, baik fisik, sosial, maupun ekonomi.

Telah diidentifikasi berbagai ancaman dan tekanan di Kota Semarang, di antaranya rob dan banjir, kekeringan, kemiskinan, pengangguran, dan kemacetan lalu lintas.

Rasanya perlu memasukkan abrasi dan akresi, tanah longsor, sampah yang cakupan pelayanannya baru 65%, serta kualitas dan pemerataan ruang terbuka hijau (RTH). Berbagai masalah krusial tersebut menjadi tekanan dan ancaman yang menyebabkan ketidaknyamanan, gangguan kegiatan keseharian dan kesehatan, menghilangkan sense of ownership, menghilangkan rasa bangga pada kotanya, bahkan bisa memicu konflik.

Masyarakat miskin tidak mempunyai pilihan kecuali bertahan di tempat yang tak nyaman dan tidak sehat. Strategi penanggulangan seharusnya tidak hanya bertumpu pada adaptasi tetapi perlu mitigasi, yakni menanggulangi masalah dari sumbernya. Karena itu, proyek percontohan resilience city tidak harus memulai dari awal.

Di sinilah perlunya sinergi dengan RPJMD dan program-program eksisting lainnya. Untuk mengatasi rob dan banjir, telah dibangun kolam retensi. Demikian juga telah dinormalisasi Banjirkanal Barat (BKB) dari Waduk Jatibarang, ruas tengah sampai hilir. Adapun normalisasi Banjirkanal Timur (BKT) sedang dalam pembahasan.

Tentang abrasi dan akresi (termasuk penanggulangan rob) telah lama digagas proyek dam lepas pantai, pulau harapan, dan sabuk pantai.

Pengelolaan sampah masih berkutat pada kegiatan rutin mengangkut dan membuang, serta fokus pada TPA. Cakupan daerah pelayanan mobil pengangkut sampah baru 70%, selebihnya warga masih membuang sampah di sungai, ditimbun, atau dibakar.

Penanggulangan kemacetan lalu lintas, masih pada gejalanya seperti membangun fly over, jalang lingkar, memperlebar jalan, dan yang sedang dilaksanakan adalah membuat underpass. Dari sisi kuantitas dan makro, luasan ruang terbuka hijau (RTH) masih lebih dari 30%, artinya masih memenuhi ketentuan UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

Kelemahan pembangunan infrastruktur penanggulangan banjir dan rob adalah tidak dibarenginya dengan pendekatan kelembagaan dan sosial. Pendekatan kelembagaan diperlukan supaya berbagai instansi (SKPD) terkait memiliki visi dan persepsi sama tentang proyek yang dimaksud.

Pendekatan Sosial

Keberlanjutan waduk Jatibarang misalnya, sangat tergantung pada tata guna lahan di sekitar waduk. Jika terjadi perubahan karena izin penggunaan lahan untuk peruntukan lain, akan memicu erosi, sedimentasi, dan air larian tinggi yang melebihi kapasitas waduk dan memicu terjadinya banjir. Pendekatan sosial untuk menumbuhkan keswadayaan akan menjamin keberlajutan infrastruktur yang dimaksud. Penanggulangan kemacetan lalu lintas dengan pola konvensional makin mendorong warga menggunakan kendaraan pribadi.

Hal ini diperburuk oleh tata ruang kota yang single used zoning, memisahkan tempat konsumsi (tempat tinggal) dari tempat produksi (tempat bekerja, sekolah, belanja, dan rekreasi). Warga kota setiap hari harus nglaju yang berbuah pada kemacetan dan pencemaran udara. Dampak ikutannya adalah pemborosan waktu, hilangnya kenyamanan, ekonomi biaya tinggi, dan pengaruh buruk pada kesehatan.

Bila mau mencermati, frame mewujudkan kota berketahanan adalah prinsip pembangunan berkelanjutan yang memadukan aspek ekonomi (pertumbuhan, pemerataan, dan pelestarian lingkungan). Diperlukan perubahan paradigma dan kebijakan mendasar untuk membawa ibu kota Jawa Tengah sebagai kota tangguh yang sejati. (10)


(Sudharto P Hadi, Ketua Harian DP2K Semarang, dosen Manajemen Lingkungan Universitas Diponegoro. Tulisan ini dimuat di harian Suara Merdeka, tanggal 6 Oktober 2015)


Leave a Reply