Oleh: Dini Nuris Nuraeni

Tahun ini kota Semarang menorehkan prestasinya sebagai salah satu kota yang terpilih dalam program 100 Resilient Cities (100 Resilient Cities Semarang). Program ini adalah program yang di-inisiasi oleh Rockefeller Foundation untuk meningkatkan kemampuan kota dalam beradaptasi dan tumbuh di antara guncangan dan tekanan fisik maupun sosial yang terjadi.

Di dalam program ini akan dipilih 100 kota dari seluruh dunia. Ada lebih dari 700 kota yang mendaftar. Dari 67 kota yang sudah terpilih, Semarang-lah salah satunya dan sekaligus menjadi satu-satunya wakil dari Indonesia yang terpilih. Tentunya hal ini sungguh membanggakan, namun jangan sampai melenakan. Pencapaian ini bukanlah hasil akhir, melainkan awal dari tugas berat yang sudah menanti, yaitu mengatasi berbagai tekanan dan guncangan di kota Semarang dengan strategi yang lebih baik.

gt1

Krisis air bersih merupakan salah satu tekanan yang dihadapi kota Semarang. Sebanyak 80% dari kebutuhan air bersih di kota ini diperoleh dengan memanfaatkan air tanah. Pemakaian air tanah berlebih terutama didapati di Semarang bagian bawah (kecamatan Semarang Utara, Semarang Barat, Semarang Tengah, Semarang Timur, Gayam Sari, Genuk, dan Manyaran) yang merupakan dataran pantai hingga berombak, karena air permukaannya payau. Tindakan ini menyebabkan semakin lama air tanah semakin menyusut sehingga air di sana semakin payau dan kadar garamnya meningkat. Kondisi ini tidak bisa dibiarkan  berlarut-larut karena dapat mengakibatkan amblesan tanah, longsor, banjir, rob, dan intrusi air laut. Jika itu terjadi maka kecepatan amblesan di sini (pesisir) akan menjadi yang tertinggi dibanding daerah lain di kota Semarang (karena rongga antar pori-pori tanah yang semula diisi oleh air akan kosong).

Berbeda dengan Semarang bagian bawah, Semarang bagian atas (kecamatan Semarang Selatan, Candisari, Gajahmungkur, Gunungpati, Banyumanik, Mijen, dan Tembalang) memperoleh air bersihnya dari air sungai Garang dan Babon, serta air tanah dangkal. Beberapa di antaranya malah belum teraliri PDAM karena air PDAM tidak kuat mengalir hingga ke daerah atas. Kondisi ini menyebabkan beberapa daerah mengalami krisis air di musim kemarau, misalnya Kampung Deliksari, kelurahan Sukorejo, Gunungpati; kelurahan Rowosari dan Mangunharjo, kecamatan Tembalang, serta kelurahan Gedawang, kecamatan Banyumanik. Krisis terparah terjadi di Deliksari karena pipa PDAM belum masuk dan artesis tidak maksimal. Biasanya solusi yang diambil oleh pemerintah adalah menggerojok tangki-tangki air bersih ke sana karena kapasitas air di Sendang Gayam tidak mencukupi kebutuhan air warga Deliksari. Untuk memudahkan pembagian air bersih, paralon ditaruh di tepi jalan raya sehingga memudahkan truk tangki menggelontorkan air bersih.

Krisis semacam ini juga telah melanda berbagai kota dan berbagai negara di dunia, yaitu terkait dengan minimnya ketersediaan air atau bisa juga air yang tersedia sebenarnya berlimpah tetapi tidak bersih (tidak layak minum/tidak layak pakai), atau air yang ada tidak terdistribusi dengan baik. Masalah ini menjadi kompleks selain karena air menyangkut hajat hidup orang banyak, krisis air juga bisa berimbas pada krisis pertanian dan konflik/persaingan untuk memperebutkan air. Krisis pertanian menyebabkan ketersediaan air untuk menghasilkan pangan, proses industri dan semua kegunaan lain menjadi langka sehingga bisa berujung pada krisis pangan dan krisis-krisis yang lain. Belum lagi kemungkinan terjadinya krisis lingkungan, di mana peningkatan penggunaan air oleh manusia berefek besar pada ekosistem perairan dan spesies yang tergantung mereka.

Di kota Semarang sendiri krisis air bersih terjadi dari tahun ke tahun. Di antara penyebabnya adalah perubahan alih fungsi lahan dan kerusakan lingkungan. Kedua hal ini menurunkan debit air tanah hingga di bawah normal sehingga ketersediaan air terus menyusut, serta menyebabkan rawan banjir dan longsor. Penyebab lainnya adalah meningkatnya kepadatan penduduk, polusi air, pemanasan global, rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kelestarian air, serta berkurangnya hutan dan daerah resapan air. Persoalan ini membutuhkan penanganan yang lebih serius, solusi-solusi ke depannya harus lebih baik daripada solusi-solusi yang telah dilakukan. Kita tidak bisa mengambil solusi yang sama jika masalah yang coba kita atasi itu tetap muncul dari tahun ke tahun. Itu artinya diperlukan solusi-solusi lain yang lebih baik. Apalagi tahun ini permintaan jumlah tangki air bersih di wilayah-wilayah yang krisis air meningkat dari tahun sebelumnya dan krisis juga telah meluas ke wilayah Wonosari yang selama ini tidak pernah dilanda kekeringan. Sehubungan dengan hal ini pemerintah berencana untuk melakukan perbaikan alat PDAM, memasok air warga dari waduk Jatibarang, dan mempercepat pembangunan air atau kolam retensi di kota Semarang. Kolam retensi ini disebut-sebut selain bisa digunakan untuk mengatasi krisis air bersih juga bisa mengatasi persoalan rob dan banjir. Akan tetapi, penggunaannya harus dipastikan tepat guna (jangan sampai mangkrak atau difungsikan untuk hal lain yang tidak menyentuh sasaran yang sebenarnya), serta perlu dioptimalkan dan diawasi. Jangan sampai terjadi seperti di Muktiharjo Kidul, kolam retensi malah digunakan oleh warga sebagai tambak.

Untuk mengantisipasi terjadinya krisis serupa di masa depan, solusi terbaik adalah dengan menerapkan sistem perbaikan holistik dan berkelanjutan. Di antara langkah-langkah yang bisa diambil adalah sebagai berikut:

  1. Mendidik untuk mengubah gaya hidup dan konsumsi air, dengan cara memahamkan semua orang bahwa kelestarian air adalah tanggung jawab bersama. Jika terjadi krisis air maka semua orang akan terkena dampaknya.
  2. Merancang program pipanisasi atau sambungan air baru.
  3. Membuat sumur artesis.
  4. Mengadakan pamsimas (penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat) di desa yang berpotensi terjadi krisis air bersih.
  5. Menerapkan sistem pemanenan air hujan (rain harvesting), dengan membuat tampungan air di rumah warga di sejumlah titik rawan kekeringan di kota Semarang.
  6. Menanam pohon, reboisasi, dan penghijauan.
  7. Membuat lubang biopori.
  8. Menindak tegas pelaku pencurian air atau pencemaran air.
  9. Mengajak masyarakat untuk berperan aktif melaporkan pencurian air dan pencemaran air.
  10. Mengikutsertakan lembaga pendidikan untuk mengadakan riset dan penelitian terkait teknologi yang dibutuhkan untuk mengatasi krisis air, mengadakan penyuluhan pentingnya air bersih, KKN atau skripsi bertema kelestarian air, dan semacamnya.
  11. Menggunakan pemurni air bertenaga surya.

Seorang anak yang dari sekolah Amerika, Deepika Kurup, 15, menemukan cara untuk menggunakan seng oksida dan titanium dioksida dalam wadah yang terekspos radiasi ultraviolet dan membersihkan air, sehingga cocok untuk minum.

  1. Menggunakan teknologi pemanen kabut

Dengan teknologi ini air dalam kabut akan ditangkap dan dikumpulkan sehingga bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

  1. Memanfaatkan air seefektif dan seefisien mungkin, misalnya:
    a. Jika sebelumnya mencuci mobil setiap hari, sekarang bisa dua atau tiga hari sekali.
    b. Mematikan keran saat mencuci, saat menggosok gigi, atau di saat tidak sedang digunakan.
    c. Menggunakan air sisa mencuci sayuran untuk menyiram tanaman.
  2. Membangun kerangka kerja/kerja sama dengan semua lembaga/pihak yang terkait dan melakukan koordinasi atasnya.
  3. Mengecilkan jejak kaki air perusahaan, artinya mencari titik di mana kebutuhan air bisa ditekan sekecil-kecilnya.
  4. Meningkatkan infrastruktur distribusi.
  5. Menciptakan teknologi konservasi air baru yang mengkonsumsi energi rendah.
  6. Menciptakan teknologi untuk mendeteksi kebocoran pipa dengan cepat.
  7. Segera mengatasi kebocoran pipa dan mengganti pipa-pipa yang telah tua dan tidak layak.
  8. Mengembangkan dan memberlakukan kebijakan dan peraturan yang lebih baik; misalnya mengintegrasikan pengelolaan air, konservasi dan sanitasi ke dalam kebijakan perdagangan.
  9. Transfer teknologi dari kota/negara lain yang sudah berhasil atau mampu membantu mengatasi masalah krisis air bersih di kota Semarang.
  10. Mendaur ulang limbah
  11. Mitigasi perubahan iklim.
  12. Mengontrol pertumbuhan penduduk.
  13. Pembersih berupa karbondioksida (CO2)

Air kadang digunakan dalam banyak aplikasi industri sebagai pendingin basah atau agen pembersih dalam skala besar. Kedua kegiatan ini menghasilkan ton sampah setiap tahun. Beruntung fungsinya bisa digantikan oleh karbondioksida padat. Pembersihan CO2 melibatkan penggunaan karbondioksida dalam bentuk padat, sangat mendorong es partikel kering dari nozzle untuk membersihkan berbagai permukaan yang berbeda. Teknologi ini dapat digunakan untuk pesawat komposit dan struktur otomotif, membersihkan peralatan medis yang kompleks, dan operasi dry cleaning dengan cara yang ramah lingkungan. Karbondioksida dalam bentuk padat ini  berasal dari daur ulang dari kegunaan industri lainnya sehingga dapat menjadi solusi krisis kekurangan air sekaligus membantu mengatasi perubahan iklim.

  1. Menggunakan solusi energi yang ramah air

Sadar atau tidak selama ini air seolah-olah dihargai murah atau lebih murah dari minyak. Jika dibutuhkan 3-4 galon air untuk membuat satu galon minyak atau setara gas alam misalnya, kita harus menganggap air gratis atau sangat murah agar dikatakan layak secara ekonomi (padahal air tidak demikian). Saat ini, sekitar 90% dari pembangkit listrik global yang menggunakan sejumlah besar air untuk pendinginan dan “fracking” atau rekah hidrolik, proses di mana secara kimia air yang diolah dipompa ke batu alam untuk melepaskan gas shale dan minyak. Penggunaan air di fracking membantu untuk menggambarkan perbedaan antara kelangkaan air dan bagaimana hal itu dihargai. Terkait dengan hal ini, Sarbjit Nahal, kepala investasi tematik, BoA Merrill Lynch Global Research memprediksi bahwa pada tahun 2030 air akan menjadi lebih langka dari minyak.
Di banyak negara kekurangan air diperburuk atau bahkan disebabkan oleh salah urus pemerintah, pertarungan politik, dan korupsi terang-terangan. Bukan tidak mungkin bahwa ketiga hal tersebut juga ikut andil di dalam terjadinya krisis air bersih di kota Semarang. Ke semua ini harus diperhatikan dan segera diperbaiki. Dengan cara ini Insya Allah kota Semarang bisa lebih tangguh di dalam menghadapi ancaman krisis air bersih.

Sumber:

http://www.circleofblue.org/waternews/2010/world/experts-name-the-top-19-solutions-to-the-global-freshwater-crisis/
https://www.ml.com/articles/the-coming-water-crisis-and-what-we-can-do-to-solve-it.html
http://www.pustaka.ut.ac.id/dev25/pdfprosiding2/fmipa201127.pdf
http://www.beritasemarang.com/2015/03/krisis-air-di-semarang.html
http://jowonews.com/2015/08/08/empat-bulan-warga-deliksari-krisis-air-bersih/
http://video.tempo.co/read/2015/08/09/3489/krisis-air-warga-serbu-bantuan-air-bersih
http://www.radarsemarang.com/2015/08/31/krisis-air-bersih-meluas.html
http://www.sainsindonesia.co.id/index.php/rubrik/lingkungan/589-atasi-krisis-air-dengan-teknologi-pemanen-kabut
http://www.triplepundit.com/2015/06/innovative-solutions-water-shortage-crisis/
http://www.arlingtoninstitute.org/wbp/global-water-crisis/441

Tulisan ini merupakan pemenang 3 Lomba Menulis Blog ‘Menuju Semarang Tangguh’. Tulisan asli ada di: http://berwarnacerah.blogspot.co.id/2015/09/meningkatkan-ketahanan-air-bersih-di.html

Leave a Reply