Kota Semarang memiliki topografi yang bervariasi yaitu berada pada ketinggian antara 0-348 mdpl. Kota Semarang merupakan kota yang unik dimana memiliki dataran pesisir pantai (1%), dataran rendah (33%) dan dataran tinggi (66%). Topografi Kota Semarang juga memiliki beragam tingkat kemiringan, mulai dari 0-2% (datar), 2-15% (landai), 15-25% (agak curam), 25-40% (curam), hingga >40% (sangat curam).

Kondisi tersebut mendukung Kota Semarang menjadi kawasan yang rawan terhadap bencana seperti banjir rob di daerah pesisir, maupun tanah longsor di daerah dataran tinggi seperti Kecamatan Banyumanik, Kecamatan Gunungpati, Kecamatan Candisari dan Kecamatan Tembalang.

Jenis Tanah

Kota Semarang memiliki jenis tanah yang bervariasi, oleh karena itu perencanaan ruangnya harus disesuaikan dengan daya dukung lahan sehingga dapat menjadikan kawasan sesuai dengan kemampuannya agar tidak menimbulkan bencana tanah longsor maupun amblesan tanah. Wilayah Kota Semarang bagian atas sebaiknya dijadikan sebagai kawasan konservasi karena tanahnya yang memiliki tingkat permeabilitas tinggi antara 4,037-122,000 liter/m2/hari sehingga cocok sebagai daerah resapan air dan melindungi daerah di bawahnya. Jika kawasan konservasi dijadikan kawasan terbangun tanpa daya dukung beban yang kurang baik maka akan menimbulkan bencana tanah longsor.

Gerakan Tanah

Beberapa wilayah di Kota Semarang memiliki reiko gerakan tanah yang tinggi, seperti Kelurahan Gunung Pati, Banyumanik dan Mijen. Di samping itu, menilik jenis tanah dan gerakan tanah pada daerah-daerah tersebut, sebaiknya wilayah tersebut  tidak direncanakan sebagai kawasan terbangun karena akan membahayakan masyarakat dan menimbulkan kerusakan sarana prasarana yang ada.

Amblesan Tanah

Selain ancaman gerakan tanah, di beberapa wilayah Kota Semarang seperti Kecamatan Genuk, dan Kecamatan Semarang Utara juga terdapat amblesan tanah hingga >8 cm/tahun. Kondisi di wilayah tersebut diperparah dengan adanya rob yang disebabkan oleh naiknya permukaan air laut. Kecamatan Gayamsari, Kecamatan Pedurungan, Kecamatan Semarang Timur dan kecamatan lainnya di Kota Semarang juga mengalami amblesan tanah berkisar 2-6 cm/tahun namun tidak separah di daerah pesisir.

Tanah Longsor

Longsor di Kota Semarang biasa terjadi di daerah perbukitan dengan topografi yang curam, terutama di bagian selatan Kota Semarang. Daerah rawan longsor di Kota Semarang antara lain adalah di Kecamatan Banyumanik, Tembalang, Gunungpati, Semarang Barat, dan Mijen. Frekuensi longsor cenderung meningkat setiap tahun dan longsor tertinggi terjadi pada tahun 2013 dan 2014 (BPBD Kota Semarang, 2015). Longsor di Kota Semarang dapat disebabkan oleh kondisi alam (pergerakan tanah) akibat perubahan tingkat curah hujan serta kesalahan konstruksi.

Diagram 1: Kelurahan di Kota Semarang dengan Intensitas Tanah Longsor Tertinggi (Sumber : BPBD Kota Semarang, 2011-2015)

Diagram 1: Kelurahan di Kota Semarang dengan Intensitas Tanah Longsor Tertinggi (Sumber : BPBD Kota Semarang, 2011-2015)

Grafik 1: Intensitas Tanah Longsor per Bulan 2010-2015 (Sumber : BPBD Kota Semarang, 2011-2015)

Grafik 1: Intensitas Tanah Longsor per Bulan 2010-2015 (Sumber : BPBD Kota Semarang, 2011-2015)

Berdasarkan data yang diperoleh dari BPBD Kota Semarang tahun 2011-2015, Kelurahan Tambakaji, Kelurahan Tandang dan Kelurahan Pudak Payung memiliki intensitas kejadian tanah longsor tertinggi diantara 177 Kelurahan yang ada di Kota Semarang. Kelurahan Tandang dan Kelurahan Pudak Payung memiliki jenis tanah mediteran coklat tua dimana tanahnya mengandung material organik berupa sisa tumbuhan dan bersifat menyuburkan sehingga sebaiknya digunakan untuk kawasan konservasi karena dapat menjadi lahan subur dan menjadi daerah resapan air untuk daerah Semarang bagian bawah, sedangkan untuk gerakan tanah di ketiga kelurahan tersebut tergolong menengah sehingga bisa memicu adanya tanah longsor yang didukung dengan curah hujan tinggi maupun jenis tanah.

Gambar 1: Peta Rawan Longsor Kota Semarang 2015 (Sumber : BPBD Kota Semarang, 2015)

Gambar 1: Peta Rawan Longsor Kota Semarang 2015 (Sumber : BPBD Kota Semarang, 2015)

Pada gambar 1 menunjukkan daerah rawan longsor di Kota Semarang yang disusun dengan mempertimbangkan seluruh aspek rawan bencana longsor mulai dari curah hujan, jenis tanah, gerakan tanah. Terlihat pada bahwa Kota Semarang berdasarkan tingkat rawan longsor dapat digolongkan menjadi dua bagian yaitu bagian wilayah yang rendah akan resiko tanah longsor dan tinggi resiko longsor. Kota Semarang bagian bawah yang memiliki topografi 0-2% memiliki resiko tanah longsor yang rendah, berbeda dengan Kota Semarang bagian atas seperti Kecamatan Tembalang, Kecamatan Banyumanik, Kecamatan Mijen, Kecamatan Gajah Mungkur yang memiliki topografi bervariasi sehingga potensi untuk tanah longsor semakin tinggi. Oleh karena itu penting adanya pengaturan tata ruang yang sesuai dengan daya dukung lahan untuk daerah perbukitan yang tinggi akan resiko tanah longsor.

Diawal tahun 2016 ini, saat Kota Semarang berada pada musim penghujan, Semarang sudah mengalami longsor beberapa kali yaitu pada tanggal 25 Januari 2016, di Kecamatan Candisari, Genuk Baru RT 4 RW 7 Kelurahan Tegalsari. Kejadian tersebut terjadi pada pukul 03.00 dini hari, sementara sebelumnya tidak terjadi hujan di daerah tersebut. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa longsor ini.

longsor-2

Longsor juga terjadi di Winong Sari RT 1 RW 12 Kelurahan Tambakaji, Kecamatan Ngaliyan, pada hari Rabu (27/1) dinihari. Ada 6 rumah yang tertimpa timbunan longsor di Kecamatan Ngaliyan ini. Di Kelurahan Jabungan, Kecamatan Banyumanik, juga terjadi longsor di bahu jalan, yang mengakibatkan hampir separuh badan jalan tidak bisa dilewati kendaraan sehingga kendaraan harus berhati-hati saat melewati jalur tersebut. Selain itu, pada dibagian lereng jalan tersebut juga longsor yang mengakibatkan tumbangnya satu buah pohon jati.

Gejala-gejala tanah longsor bisa dilihat dari keretakan pada lantai dan tembok bangunan atau rumah, miring nya pohon-pohon atau tiang-tiang pada lereng, munculnya rembesan air pada lereng secara tiba-tiba, dan runtuhnya bagian-bagian tanah dalam jumlah besar. Mengupayakan perlindungan terhadap tanah merupakan salah satu upaya untuk mengurangi dampak longsor. Selain itu dengan menjaga keseimbangan alam dengan tidak menebang pohon sembarangan dan menamai wilayah yang gundul.

Saat ini Pemerintah Kota Semarang sudah aktif melakukan pemantauan dan evaluasi pemanfaatan lahan di Kota Semarang terutama di kawasan rawan longsor. Hal ini perlu dilakukan terus dengan dibarengi dengan penataan serta konservasi lahan untuk mencegah terjadinya longsor.

Di samping itu perlu disediakan sistem informasi yang bisa diakses oleh warga tentang ancaman tanah longsordi kota Semarang disertai peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana seperti pembentukan dan pelatihan Kelompok Siaga Bencana di daerah-daerah yang rawan longsor untuk mengurangi dampak yang terjadi.


Leave a Reply