Banjir menjadi salah satu bencana yang selalu eksis di kota semarang, bahkan tak kalah eksisnya dengan lunpia. Tidak hanya banjir bandang karena luapan air sungai tetapi juga banjir akibat pasang surut air laut (rob) terutama di kawasan pesisir. Kondisi ini diperparah dengan adanya dampak perubahan iklim seperti perubahan cuaca yang tidak tetap yang berakibat pada peningkatan curah hujan dan naiknya permukaan air laut.

Dampak yang ditimbulkan banjir itu sendiri cukup besar, seperti yang terjadi di tahun 2010 dimana banjir telah melanda masyarakat yang tinggal di sekitar DAS Bringin yang mengakibatkan ribuan warga mengungsi, 7 orang dinyatakan hilang, dan kerugian harta benda. Besarnya dampak yang ditimbulkan ini juga salah satunya dikarenakan masyarakat dan Kota Semarang sendiri belum memiliki sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana banjir.

Dari kondisi inilah yang kemudian menjadi salah satu latar belakang pemerintah kota semarang melalui program Asian Cities Climate Change Resilience Network (ACCCRN) untuk mengembangkan sistem peringatan melalui pendektesian banjir dan kesiapsiagaan dini bagi masyarakat dalam menghadapi risiko banjir. Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara pemerintah kota semarang, Mercy Corps Indonesia, Yayasan Bintari, dan UNDIP dengan didukung oleh Rockefeller Foundation yang dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi kerentanan masyarakat akibat dampak perubahan iklim seperti banjir. Kegiatan fokus dilakukan di 7 kelurahan Daerah Aliran Sungai (DAS) Bringin yaitu Kelurahan Wates, Tambak Aji, Gondoriyo, Bringin, Wonosari, Mangkang Wetan, dan Mangunharjo dimana ketujuh kelurahan ini dianggap rentan karena lokasinya yang berada di DAS Bringin sehingga menjadi yang paling terdampak ketika air sungai Bringin meluap.

Beberapa kegiatan telah dilakukan seperti misalnya membangun komunikasi dan koordinasi yang baik antar stakeholder dalam menanggapi risiko banjir. Di awal kegiatan dilakukan pembentukan Kelompok Siaga Bencana (KSB) untuk setiap kelurahan di 7 kelurahan DAS Bringin. Koordinasi dan komunikasi antar KSB telah dibangun untuk mendukung sistem peringatan dini. Dalam sistem peringatan dini ini juga dikembangkan Automatic Rainfall Recorder (ARR) untuk mengetahui curah hujan yang turun dan Automatic Water Level Recorder (AWLR) untuk melihat ketinggian air. Kedua alat ini dipasang di kelurahan Wates. Masyarakat melalui KSB dibantu UNDIP juga memasang alat pengukur ketinggian banjir secara manual di Kelurahan Wonosari berupa kode warna dimana perbedaan warna akan menggambarkan ketinggian banjir dari level aman sampai level siap mengungsi. Koordinasi yang baik juga dibangun antara KSB dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk memudahkan BPBD dalam menyiapkan atau mengirim bantuan tim tanggap darurat maupun logistik. Koordinasi juga dilakukan dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam hal penyampaian informasi cuaca dan iklim, Palang Merah Indonesia (PMI) dalam hal P3K pasca banjir, dan Dinas Sosial yang juga membantu dalam hal logistik.

Partisipasi masyarakat melalui KSB juga dilakukan dalam hal penyusunan strategi evakuasi, seperti misalnya pembuatan peta jalur evakuasi, penentuan shelter atau tempat penampungan sementara, kegiatan simulasi bencana banjir dan penyebarluasan informasi banjir. Partisipasi KSB dalam setiap kegiatan sangat penting karena merekalah yang mengerti kondisi tempat tinggal. Kegiatan simulasi banjir dilakukan agar masyarakat memiliki pengetahuan dan lebih siap siaga, mengerti apa yang harus dilakukan ketika banjir terjadi. Untuk penyebarluasan informasi dari KSB ke masyarakat di kelurahan dilakukan melalui alat komunikasi tradisional seperti kentongan, speaker masjid, dan lain-lain.

fews-2

Tidak hanya di masyarakat, kesiapsiagaan dini dalam menghadapi banjir juga dilakukan di sekolah. Untuk mendukung kegiatan tersebut telah disusun modul mengenai pelatihan manajemen bencana dan peringatan dini banjir yang ditujukan untuk beberapa sekolah yang berlokasi di dekat DAS Bringin. Dengan adanya pelatihan tersebut diharapakan siswa sekolah lebih memiliki pengetahuan tentang banjir dan kesiapsiagaan dalam menghadapi banjir. Siswa lebih tahu apa yang harus dilakukan sebelum terjadi banjir, saat terjadi banjir, dan sesudah terjadi banjir.

Selama tiga tahun kegiatan berjalan (2012 – 2014), sudah banyak manfaat dan pembelajaran yang diterima dan dirasakan secara khusus oleh masyarakat dan secara umum oleh Kota Semarang dalam hal membangun ketahanan terhadap dampak perubahan iklim khususnya banjir. Masyarakat memiliki semangat dan motivasi yang tinggi untuk terus berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan yang dilakukan. Melalui KSB yang telah dibentuk menjadi salah satu sistem komunikasi dan koordinasi dengan masyarakat di 7 kelurahan BDS dan dengan pihak lain dalam kesiapsiagaan menghadapi banjir. Masyarakat saat ini juga merasa lebih siap ketika musim hujan tiba dan memiliki pengetahuan serta kapasitas dalam menghadapi bencana banjir.

Di bulan Februari 2014 lalu misalnya, ketika banjir datang maka masyarakat sudah lebih siap dan KSB di 7 kelurahan serta BPBD sudah memiliki koordinasi yang baik. Dengan kesiapsiagaan dini dampak yang ditimbulkan dari banjir juga dapat berkurang. Berbeda dengan sebelumnya dimana ketika terjadi bencana banjir masyarakat secara langsung panik, bingung dan tidak tahu apa yang harus dilakukan dalam menghadapi situasi darurat. Selain itu juga belum ada sistem komunikasi dan koordinasi di masyarakat sehingga dampak dari banjir menjadi lebih besar. Masyarakat melalui KSB saat ini juga lebih aktif untuk sharing pengetahuan, informasi dan pengalaman yang dimiliki kepada pihak lain terkait kesiapsiagaan banjir baik secara formal maupun informal. Beberapa anggota KSB telah berhasil menginspirasi masyarakat lainnya dan KSB dianggap sebagai local champion sehingga semakin banyak masyarakat yang berkeinginan untuk gabung dalam KSB serta berpartisipasi dalam kegiatan kesiapsiagaan banjir. Kegiatan sistem peringatan dini banjir di Kota Semarang ini juga menjadi best practice untuk kota lain seperti Probolinggo.

Pemerintah Kota Semarang pun turut merasakan manfaat dari kegiatan siap siaga banjir, khususnya terkait dengan peningkatan kesadaran dan pengetahuan tentang perubahan iklim. Beberapa instansi pemerintah yang terlibat dalam kegiatan tersebut, kini semakin aktif merespon tentang dampak perubahan iklim khususnya dalam hal penanganan risiko banjir. Seperti misalnya BPBD dimana salah satu programnya adalah melanjutkan untuk mengkoordinasi dan mengelola KSB yang terlibat dalam kegiatan peringatan dini banjir. BPBD juga telah menganggarkan pendanaan untuk membangun pusat data dan informasi tentang bencana, forum pengurangan risiko bencana, dan pembangunan infrastruktur. Selain BPBD, dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) turut menganggarkan pendanaan untuk operasional dan perawatan alat ARR dan AWLR. Bappeda pun telah memasukkan isu perubahan iklim dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dimana program penanganan bencana banjir selalu menjadi prioritas dalam pembangunan, tidak hanya mitigasi namun juga adaptasi termasuk kesiapsiagaan dini dalam merespon banjir. Kegiatan ini juga menjadi salah satu bentuk kontribusi untuk mewujudkan Kota Semarang sebagai kota tangguh.

Leave a Reply